
Search Results
15 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Potret Umat, Kelembagaan, Pendidikan Agama dan Keagamaan Buddha di Indonesia Triwulan IV Tahun 2025
Infografis ini menyajikan potret menyeluruh kondisi umat Buddha, rumah ibadah serta perkembangan pendidikan agama dan keagamaan Buddha di Indonesia berdasarkan data Pada Portal Data Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Triwulan IV Tahun 2025 . Jumlah umat Buddha tercatat sebanyak 2.002.402 jiwa , dengan komposisi 998.170 laki-laki dan 1.004.232 perempuan , menunjukkan proporsi gender yang relatif seimbang. Secara historis, jumlah umat Buddha mengalami tren penurunan bertahap dalam periode 2019–2025 , dari 2.062.150 umat pada tahun 2019 menjadi 2.002.402 umat pada tahun 2025 . Penurunan ini cenderung melambat sejak tahun 2023, yang mengindikasikan fase stabilisasi jumlah umat dalam dua tahun terakhir. Dari sisi sumber daya manusia keagamaan, tercatat 836 penyuluh agama Buddha , yang terdiri atas 60 PNS , 24 CPNS , 127 PPPK , 2 PPPK paruh waktu , dan 623 non-ASN . Komposisi ini menunjukkan bahwa peran penyuluh agama masih didominasi oleh non-ASN, sehingga diperlukan penguatan tata kelola dan keberlanjutan pembinaan penyuluh ke depan. Jumlah rohaniwan Buddha menunjukkan tren peningkatan. Pada tahun 2022 tercatat sebanyak 4.344 rohaniwan yang terdiri atas 4.112 WNI dan 232 WNA , meningkat menjadi 5.177 rohaniwan pada tahun 2025 yang terdiri atas 4.881 WNI dan 296 WNA . Kenaikan ini mencerminkan penguatan kapasitas pembinaan umat, termasuk kontribusi rohaniwan warga negara asing dalam pelayanan keagamaan. Adapun rohaniwan warga negara asing memiliki izin pelayanan dengan masa berlaku satu tahun dan wajib melakukan perpanjangan izin untuk dapat melanjutkan kegiatan pelayanan keagamaan di Indonesia. Dari aspek sarana peribadatan, terdapat 5.915 rumah ibadah Buddha pada tahun 2025 , meningkat dari 5.147 pada tahun 2022 . Namun demikian, masih terdapat kesenjangan antara rumah ibadah yang sudah terdaftar sebanyak 3.333 dan yang belum terdaftar sebanyak 2.582 , sehingga diperlukan percepatan proses pendataan dan legalisasi rumah ibadah. Pada sisi Organisasi Keagamaan Buddha, tercatat 1.332 yayasan keagamaan Buddha sebagai entitas terbanyak, diikuti oleh 515 majelis/perkumpulan , 144 organisasi keagamaan , dan 100 organisasi wanita Buddhis . Hal ini menunjukkan tingginya peran yayasan sebagai basis organisasi keagamaan umat Buddha di Indonesia. Infografis ini juga mencatat keberadaan 56 Candi/Situs Buddha yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia, dengan jumlah terbanyak berada di Provinsi Jambi sebanyak 17 Candi/Situs . Selain itu, terdapat 84 kelompok ekonomi kreatif Umat Buddha dengan jumlah anggota mencapai 1.139 umat , serta 46 pegiat budaya Buddhis yang melibatkan 2.535 umat . Data ini menunjukkan peran aktif umat Buddha tidak hanya dalam kehidupan keagamaan, tetapi juga dalam penguatan budaya serta pengembangan ekonomi berbasis komunitas di berbagai daerah.Secara keseluruhan, data ini menggambarkan bahwa meskipun jumlah umat Buddha cenderung menurun secara kuantitatif, penguatan kualitas kelembagaan, sumber daya manusia keagamaan, serta partisipasi umat dalam bidang budaya dan ekonomi menunjukkan tren yang positif dan berkelanjutan. Jumlah Guru Pendidikan Agama Buddha tercatat sebanyak 1.727 orang , yang terdiri atas 50% Non-ASN , 36% PNS , 13% PPPK , dan 0,05% PPPK Paruh Waktu . Komposisi ini menunjukkan dominasi guru Non-ASN yang masih cukup tinggi, sehingga penguatan status dan kesejahteraan guru menjadi isu strategis ke depan. Dari sisi gender, terdapat 802 guru laki-laki (46,4%) dan 925 guru perempuan (53,6%) , menunjukkan partisipasi perempuan yang lebih besar dalam pendidikan keagamaan Buddha. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha telah melakukan akselerasi percepatan pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan Pendidikan Agama Buddha. Hingga saat ini, sebanyak 1.474 guru telah mengikuti PPG Dalam Jabatan. Sementara itu, masih terdapat 310 guru yang belum tersertifikasi , sehingga terus dilakukan percepatan untuk pemenuhan hak profesional guru. Sejumlah guru yang telah melaksanakan PPG dan menerima Tunjangan Profesi Guru (TPG) telah mencapai 784 guru atau 45,4% , sedangkan 943 guru lainnya belum menerima TPG. Perkembangan lembaga Nava Dhammasekha menunjukkan tren peningkatan dari 37 lembaga pada tahun 2022 menjadi 49 lembaga pada tahun 2025. Sementara itu, lembaga Mula Dhammasekha masih terbatas, meningkat dari 2 lembaga (2022–2023) menjadi 5 lembaga pada tahun 2025. Jumlah peserta didik Nava Dhammasekha meningkat signifikan dari 536 siswa (2022 ) menjadi 1.110 siswa (2025) . Pada Mula Dhammasekha, jumlah peserta didik meningkat dari 8 siswa (2022) menjadi 150 siswa (2025) . Hingga saat ini, lembaga Muda Dhammasekha belum terbentuk. Selain itu, lembaga Uttama Dhammasekha yang ada baru tercatat sebanyak 1 lembaga yang berdiri pada tahun 2023 hingga tahun 2025 masih tercatat sebanyak 1 lembaga.. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan keagamaan Buddha pada jenjang lanjutan masih memerlukan penguatan kebijakan, dukungan kelembagaan, serta perluasan jangkauan layanan pendidikan. Pada jenjang Sekolah Minggu Buddha , tercatat: 1.278 lembaga , 3.682 guru dan tenaga kependidikan , serta 31.968 siswa . Data ini menegaskan peran strategis Sekolah Minggu Buddha sebagai fondasi pembinaan keagamaan umat Buddha sejak usia dini. Pada pendidikan nonformal, tercatat 35 lembaga Dhammasekha , 52 lembaga Pusdiklat dan 3 Lembaga Sikkhapana . Pada tahun 2025 , dilakukan proses migrasi kelembagaan , di mana lembaga Pusdiklat dan Dhammasekha nonformal dialihkan menjadi Sikkhapana , sebagai bagian dari penataan dan standardisasi pendidikan keagamaan Buddha. Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB) memiliki 255 dosen , dengan komposisi 64,3% Non-ASN , 28,6% PNS , 3,9% PPPK , dan 3,1% CPNS . Berdasarkan kualifikasi pendidikan, dosen didominasi oleh S2 (76,4%) , sementara S3 mencapai 23,6% , sehingga peningkatan kualifikasi doktoral masih menjadi kebutuhan strategis. Jumlah penelitian tercatat sebanyak 1.021 kegiatan . Pada aspek publikasi ilmiah, terdapat 65 jurnal PTKB , yang terdiri atas 32 jurnal terindeks nasional , 30 jurnal terindeks nasional dan internasional , serta 3 jurnal belum terindeks , mencerminkan kemajuan kualitas akademik PTKB. Perkembangan jumlah mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB) pada periode 2022–2025 menunjukkan dinamika yang cenderung meningkat meskipun bersifat fluktuatif. Pada tahun 2022 tercatat sebanyak 2.377 mahasiswa, meningkat menjadi 2.440 mahasiswa pada 2023 . Kenaikan paling signifikan terjadi pada tahun 2024 dengan jumlah 3.313 mahasiswa, yang mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap pendidikan tinggi keagamaan Buddha. Pada tahun 2025 , jumlah mahasiswa tercatat 3.132 orang, mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, namun secara umum masih berada pada level yang lebih tinggi dibandingkan periode awal pengamatan. Mobilitas mahasiswa mencatat 1 mahasiswa inbound dan 12 mahasiswa outbound . Selain itu, kegiatan pengembangan mahasiswa meliputi 431 kegiatan pembinaan moderasi beragama , 1.306 kegiatan pengembangan kompetensi mahasiswa , 402 kegiatan pengabdian kepada masyarakat , 89 kegiatan peningkatan kualifikasi dosen , dan 92 kegiatan pendukung SDGs . Selain itu infografis ini menyajikan gambaran kinerja dan tata kelola Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha berdasarkan data yang telah tersedia hingga tahun 2024, mencakup komposisi sumber daya manusia pusat dan daerah, capaian indikator kinerja utama, serta kualitas layanan publik. Adapun data tahun 2025 masih dalam proses pengolahan dan belum dirilis secara resmi, sehingga belum seluruh indikator ditampilkan. Data menunjukkan penguatan profesionalisme ASN yang tercermin dari peningkatan Indeks Profesional ASN dan Nilai SAKIP pada periode 2020–2024, serta tingkat kepuasan masyarakat yang tinggi dan relatif stabil. Di sisi lain, nilai PMPRB dan persentase tindak lanjut hasil pemeriksaan (TLHP) mencerminkan komitmen berkelanjutan dalam pelaksanaan Reformasi Birokrasi dan penguatan akuntabilitas kinerja. Secara keseluruhan, capaian ini menunjukkan upaya konsisten Ditjen Bimas Buddha dalam mewujudkan tata kelola organisasi yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan publik. Infografis ini diharapkan menjadi sarana informasi yang mudah dipahami serta mendukung perencanaan, evaluasi kebijakan, dan pengambilan keputusan berbasis data di lingkungan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha. Secara keseluruhan, pendidikan keagamaan Buddha di Indonesia menunjukkan arah perkembangan yang semakin positif, tercermin dari pertumbuhan jumlah lembaga, peningkatan partisipasi peserta didik, serta keberlangsungan aktivitas akademik. Kondisi ini menjadi fondasi kuat dalam membangun ekosistem pendidikan keagamaan Buddha yang berkelanjutan. Ke depan, penguatan kelembagaan serta peningkatan kapasitas dan profesionalisme tenaga pendidik melalui sertifikasi, TPG, dan peningkatan kualifikasi dosen menjadi peluang strategis untuk meningkatkan mutu layanan dan kualitas pendidikan keagamaan Buddha di Indonesia.
- Peta Sebaran PTKB: Mahasiswa dan Dosen di Seluruh Indonesia Tahun 2025 Triwulan III
Visualisasi ini menampilkan sebaran Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB) di Indonesia berdasarkan data Triwulan III Tahun 2025. Saat ini terdapat 12 PTKB yang terdiri dari 2 perguruan tinggi negeri, yaitu Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Sriwijaya dan STABN Raden Wijaya, serta sisanya berstatus swasta, termasuk 1 institut, yaitu Institut Nalanda. Keberadaan PTKB ini menjadi wadah penting bagi pengembangan pendidikan tinggi agama Buddha, sekaligus sebagai pusat pembinaan generasi muda Buddhis di Indonesia. Dengan sebaran tersebut, PTKB berperan dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berlandaskan nilai-nilai ajaran Buddha. Selain itu, Visualisasi ini juga menggambarkan jumlah mahasiswa dan dosen di PTKB. Hingga Triwulan III Tahun 2025, tercatat ada 3.583 mahasiswa yang tersebar di 12 perguruan tinggi tersebut, dengan dukungan 258 dosen. Jumlah mahasiswa ini meningkat sebesar 11,47% dari 3.214 mahasiswa pada Triwulan II Tahun 2025. Peningkatan ini mencerminkan minat yang terus tumbuh terhadap pendidikan tinggi agama Buddha, sekaligus menunjukkan komitmen PTKB dalam memperluas akses pendidikan Buddhis di Indonesia. Dari total dosen yang ada, sebanyak 198 orang telah menempuh pendidikan S2 dan 59 orang bergelar S3 , dengan komposisi status kepegawaian terdiri atas 74 PNS , 10 PPPK , 166 Non-ASN , dan 8 CPNS . Saat ini, terdapat 1 orang dosen dengan jabatan fungsional Profesor/Guru Besar , yaitu di STABN Raden Wijaya. Data ini menunjukkan bahwa kualitas akademik dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB) tergolong memadai , dengan mayoritas telah berpendidikan pascasarjana. Ke depan, peningkatan kualifikasi dosen diharapkan dapat terus ditingkatkan agar mutu PTKB semakin berkembang dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa . Ditjen Bimbingan Masyarakat Buddha berkomitmen untuk terus menyajikan data yang valid, akurat, dan relevan sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan layanan keagamaan dan pelestarian nilai-nilai Buddhis di Indonesia. Kami mengundang pembaca untuk memberikan masukan atau koreksi melalui kolom komentar sebagai bentuk partisipasi aktif dalam peningkatan kualitas data umat Buddha di Indonesia. Catatan: Data yang disajikan dalam publikasi ini belum melalui tahapan survei akurasi data .
- Nava Dhammasekha di Nusantara Tahun 2025 Triwulan III: Peta Sebaran Guru, Tendik, dan Siswa
Visualisasi ini menggambarkan persebaran guru, tenaga kependidikan, dan siswa pada lembaga pendidikan Nava Dhammasekha di Indonesia. Hingga Triwulan III Tahun 2025, tercatat bahwa Nava Dhammasekha telah hadir di 18 provinsi, dengan distribusi guru dan tenaga kependidikan di 16 provinsi, di mana Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah lembaga terbanyak . Pendataan Nava Dhammasekha ini merupakan hasil kompilasi data yang telah teregistrasi melalui aplikasi EMIS, yang menjadi sumber utama publikasi pada Portal Data Ditjen Bimas Buddha . Melalui sistem ini, pendataan dilakukan secara terintegrasi guna memastikan validitas dan keterkinian data satuan pendidikan keagamaan Buddha di Indonesia. Selain itu, jumlah siswa Nava Dhammasekha mengalami peningkatan sebesar 30,13% , dari 956 siswa pada Triwulan II menjadi 1.244 siswa pada Triwulan III Tahun 2025. Peningkatan ini mencerminkan adanya pertumbuhan minat dan partisipasi masyarakat terhadap pendidikan agama Buddha, sekaligus menunjukkan perkembangan positif lembaga pendidikan keagamaan Buddha di Indonesia. Namun demikian, masih terdapat 20 provinsi yang belum memiliki lembaga Nava Dhammasekha. Kondisi ini menunjukkan bahwa penyebaran pendidikan agama Buddha masih perlu diperluas agar lebih merata di seluruh Indonesia. Kehadiran lembaga di beberapa provinsi menjadi langkah awal yang baik dalam memperluas akses pendidikan agama Buddha, dengan harapan ke depan dapat menjangkau lebih banyak wilayah dan peserta didik. Ditjen Bimbingan Masyarakat Buddha berkomitmen untuk terus menyajikan data yang valid, akurat, dan relevan sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan layanan keagamaan dan pelestarian nilai-nilai Buddhis di Indonesia. Kami mengundang pembaca untuk memberikan masukan atau koreksi melalui kolom komentar sebagai bentuk partisipasi aktif dalam peningkatan kualitas data umat Buddha di Indonesia. Catatan: Data yang disajikan dalam publikasi ini belum melalui tahapan survei akurasi data .
- Sebaran Penyuluh Agama Buddha di Indonesia Tahun 2025 Triwulan III
Pada Triwulan III Tahun 2025 , jumlah Penyuluh Agama Buddha di Indonesia tercatat sebanyak 864 orang. Komposisi tersebut terdiri atas 60 orang PNS, 24 orang CPNS, 107 orang PPPK, dan 673 orang Non ASN, dengan rincian 546 laki-laki dan 318 perempuan. Kehadiran para penyuluh ini menjadi elemen penting dalam mendukung pembinaan umat serta penguatan kehidupan keagamaan Buddha di berbagai wilayah Indonesia. Empat provinsi tercatat memiliki jumlah penyuluh terbanyak. Provinsi Banten menempati urutan pertama dengan 126 orang penyuluh, disusul oleh Kalimantan Barat sebanyak 85 orang, Jawa Tengah 79 orang, dan Jawa Timur 76 orang. Sebaran ini menunjukkan bahwa penyuluh agama Buddha tersebar di berbagai daerah, sehingga perannya diharapkan semakin terasa dalam mendukung kerukunan, pembinaan umat, serta penguatan nilai-nilai Buddhis di tanah air. Ditjen Bimbingan Masyarakat Buddha berkomitmen untuk terus menyajikan data yang valid, akurat, dan relevan sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan layanan keagamaan dan pelestarian nilai-nilai Buddhis di Indonesia. Apabila terdapat ketidaksesuaian atau masukan terhadap data yang dirilis, kami mengundang pembaca untuk menyampaikannya melalui kolom komentar di bawah ini sebagai bentuk partisipasi aktif dalam peningkatan kualitas data umat Buddha di Indonesia. Catatan: Data yang disajikan dalam publikasi ini belum melalui tahapan survei akurasi data .
- Peta Persebaran Candi/Situs Buddha di Indonesia Tahun 2025 Triwulan III
Berdasarkan data Candi/Situs Buddha Triwulan III Tahun 2025 yang bersumber dari Portal Data Ditjen Bimas Buddha, tercatat terdapat 54 candi atau situs Buddha yang tersebar di 14 provinsi di Indonesia. Angka ini menunjukkan penambahan 5 candi/situs dari Triwulan II Tahun 2025, yang sebelumnya mencatat 49 candi/situs Buddha di 12 provinsi. Peningkatan ini mencerminkan adanya kemajuan dalam proses pendataan serta pembaruan informasi terkait situs-situs peninggalan agama Buddha di Indonesia. Tiga provinsi dengan jumlah situs terbanyak adalah Jambi dengan 17 candi/situs, Jawa Tengah sebanyak 11 candi/situs, dan Jawa Timur dengan 6 candi/situs. Sebaran ini mencerminkan kekayaan peninggalan sejarah dan kebudayaan Buddha yang masih terjaga hingga kini, menjadi bukti nyata perjalanan panjang agama Buddha di Nusantara. Di antara sebaran tersebut, terdapat candi-candi besar yang telah mendunia seperti Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Sewu yang semuanya terletak di Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, Candi Blandongan di Jawa Barat serta Candi Muaro Jambi di Provinsi Jambi juga menjadi pusat penting perkembangan ajaran Buddha pada masa lampau. Keberadaan candi-candi ini tidak hanya berfungsi sebagai situs religi dan tempat ziarah spiritual, tetapi juga sebagai warisan budaya bernilai tinggi yang memperkaya identitas dan sejarah bangsa Indonesia. Ditjen Bimbingan Masyarakat Buddha berkomitmen menyajikan data yang valid, akurat, dan relevan sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian warisan budaya dan sejarah Buddhis di Indonesia. Kami membuka ruang partisipasi bagi pembaca untuk memberikan masukan atau koreksi melalui kolom komentar sebagai upaya bersama meningkatkan kualitas data umat Buddha di Indonesia. Catatan: Data yang disajikan dalam publikasi ini belum melalui tahapan survei akurasi data .
- Persebaran Rumah Ibadah Agama Buddha di Indonesia Tahun 2025 Triwulan III
Visualisasi ini menampilkan persebaran Rumah Ibadah Agama Buddha (RIAB) di Indonesia berdasarkan data Triwulan III Tahun 2025 yang bersumber dari Portal Data Ditjen Bimas Buddha . Rumah ibadah umat Buddha tercatat tersebar di seluruh 34 provinsi , dengan konsentrasi terbesar berada di Kalimantan Barat sebanyak 1.501 rumah ibadah , disusul oleh Jawa Tengah dengan 663 rumah ibadah , serta Sumatera Utara dengan 642 rumah ibadah . Data ini menunjukkan adanya konsentrasi rumah ibadah di beberapa wilayah yang menjadi pusat perkembangan umat Buddha di Indonesia. Pada Triwulan III Tahun 2025 , tercatat kenaikan jumlah Rumah Ibadah Agama Buddha sebesar 4,03% dibandingkan Triwulan II Tahun 2025 , yaitu dari 5.658 menjadi 5.886 rumah ibadah . Peningkatan ini mencerminkan adanya kemajuan dalam proses pendataan , serta meningkatnya kesadaran satuan kerja dan lembaga keagamaan untuk melaporkan keberadaan rumah ibadah secara lebih lengkap dan akurat. Pendataan Rumah Ibadah Agama Buddha (RIAB) ini merupakan hasil kompilasi Data Urusan Agama Buddha Tahun 2025. Dari total 5.886 rumah ibadah yang terdata, sebanyak 3.209 di antaranya telah teregistrasi melalui aplikasi SIORI Buddha , sementara sisanya masih tercatat melalui proses pendataan di Portal Data Buddha dan belum teregistrasi secara sistem. Berdasarkan jenisnya, rumah ibadah Buddha terbagi ke dalam tiga kategori utama, yaitu: Maha Vihara/Vihara/Arama/Kuil sebesar 2.952 unit atau 50,2%; Cetiya sebesar 1.920 unit atau 32,6% ; dan TITD/Kelenteng Buddha/Bio sebesar 1.014 unit atau 17,2% . Komposisi tersebut mencerminkan keragaman bentuk rumah ibadah yang digunakan umat Buddha dalam melaksanakan kegiatan spiritual dan keagamaan. Keberadaan rumah ibadah ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat puja bhakti, tetapi juga menjadi pusat pembinaan umat, pendidikan moral, serta sarana mempererat kebersamaan dalam komunitas Buddhis di seluruh Nusantara. Ditjen Bimbingan Masyarakat Buddha berkomitmen untuk menyajikan data yang valid, akurat, dan relevan, Kami membuka ruang partisipasi bagi pembaca untuk memberikan masukan atau koreksi melalui kolom komentar sebagai bentuk upaya bersama dalam meningkatkan kualitas data umat Buddha di Indonesia. Catatan: Data yang disajikan dalam publikasi ini belum melalui tahapan survei akurasi data .
- Peta Sebaran PTKB: Mahasiswa dan Dosen di Seluruh Indonesia Tahun 2025 Triwulan II
Infografis ini menampilkan sebaran Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB) di Indonesia berdasarkan data Triwulan II Tahun 2025. Saat ini terdapat 12 PTKB yang terdiri dari 2 perguruan tinggi negeri, yaitu Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Sriwijaya dan STABN Raden Wijaya, serta sisanya berstatus swasta, termasuk di dalamnya 1 institut, yaitu Institut Nalanda. Keberadaan PTKB ini menjadi wadah penting bagi pengembangan pendidikan tinggi agama Buddha, sekaligus sebagai pusat pembinaan generasi muda Buddhis di Indonesia. Dengan sebaran tersebut, PTKB berperan dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berlandaskan nilai-nilai ajaran Buddha. Selain itu, infografis juga menggambarkan jumlah mahasiswa dan dosen di PTKB. Hingga Triwulan II Tahun 2025, tercatat ada 3.214 mahasiswa yang tersebar di 12 perguruan tinggi tersebut, dengan dukungan 257 dosen. Dari jumlah tersebut, 202 dosen telah menempuh pendidikan S2 dan 55 dosen bergelar S3, dengan komposisi status kepegawaian terdiri atas 75 orang PNS, 10 PPPK, 164 Non ASN, dan 8 CPNS. Data ini menunjukkan bahwa kualitas akademik dosen PTKB memadai dengan mayoritas bergelar magister dan doktor. Ke depan, peningkatan kualifikasi dosen bisa terus berjalan agar mutu PTKB semakin berkembang dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
- Peta Persebaran Candi/Situs Buddha di Indonesia Tahun 2025 Triwulan II
Berdasarkan data candi/situs Buddha Triwulan II Tahun 2025 pada Portal Data Ditjen Bimas Buddha, terdapat 49 candi/situs Buddha yang tersebar pada 12 provinsi di Indonesia. Tiga provinsi dengan jumlah candi/situs terbanyak yaitu Jambi dengan 17 candi/situs, Jawa Tengah sebanyak 11 candi/situs, dan D.I. Yogyakarta dengan 5 candi/situs. Sebaran ini menunjukkan kekayaan peninggalan sejarah dan kebudayaan Buddha yang masih terjaga hingga kini, menjadi bukti nyata perjalanan panjang agama Buddha di Nusantara. Di antara sebaran tersebut, terdapat candi-candi besar yang telah mendunia seperti Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Sewu, semua terletak di Jawa Tengah. Selain itu, ada pula Candi Blandongan di Jawa Barat dan Candi Muaro Jambi di Provinsi Jambi yang menjadi pusat penting sejarah perkembangan Buddha di masa lalu. Keberadaan candi-candi ini tidak hanya berfungsi sebagai situs religi, tetapi juga menjadi warisan budaya yang bernilai tinggi, sekaligus destinasi wisata sejarah yang memperkaya identitas bangsa.
- Sebaran Rumah Ibadah Agama Buddha di Indonesia Tahun 2025 Triwulan II
Infografis ini menampilkan persebaran Rumah Ibadah Agama Buddha (RIAB) di Indonesia berdasarkan data Triwulan II Tahun 2025 pada Portal Data Ditjen Bimas Buddha. Rumah Ibadah Agama Buddha tersebar di seluruh 34 provinsi, dengan jumlah terbesar berada di Kalimantan Barat sebanyak 1.444 rumah ibadah, disusul oleh Jawa Tengah dengan 663 rumah ibadah, serta Sumatera Utara dengan 626 rumah ibadah. Provinsi lain yang juga memiliki jumlah rumah ibadah cukup signifikan adalah Riau (501 rumah ibadah) dan DKI Jakarta (426 rumah ibadah). Data ini menunjukkan adanya konsentrasi rumah ibadah di beberapa wilayah yang menjadi pusat perkembangan umat Buddha di Indonesia. Jenis Rumah Ibadah Agama Buddha dalam data ini terbagi ke dalam tiga kategori, yaitu Maha Vihara/Vihara/Arama/Kuil sebesar 51,4%, Cetiya sebesar 31,2%, serta TITD/Kelenteng Buddha/Bio sebesar 17,3%. Komposisi ini mencerminkan keragaman bentuk rumah ibadah yang digunakan oleh umat Buddha dalam menjalankan kegiatan spiritual dan keagamaan. Keberadaan rumah ibadah ini tidak hanya menjadi tempat puja bhakti, tetapi juga berfungsi sebagai pusat pembinaan umat, pendidikan moral, serta sarana mempererat kebersamaan dalam komunitas Buddhis di seluruh nusantara.
- Jumlah dan Persebaran Penyuluh Agama Buddha Tahun 2025 Triwulan II
Pada Triwulan II Tahun 2025, jumlah penyuluh agama Buddha di Indonesia tercatat sebanyak 898 orang. Komposisi tersebut terdiri dari 61 PNS, 24 CPNS, 130 PPPK, dan 683 Non ASN. Kehadiran para penyuluh ini menjadi elemen penting dalam mendukung pembinaan umat dan penguatan kehidupan keagamaan Buddha di berbagai wilayah Indonesia. Lima provinsi tercatat sebagai daerah dengan jumlah penyuluh terbanyak. Banten berada di peringkat pertama dengan 127 orang penyuluh, diikuti oleh Jawa Tengah sebanyak 101 orang, Kalimantan Barat 87 orang, Jawa Timur 76 orang, dan Sumatera Utara dengan 65 orang. Sebaran ini menunjukkan bahwa penyuluh agama Buddha tersebar di berbagai daerah, sehingga perannya diharapkan semakin terasa dalam mendukung kerukunan serta pembinaan umat Buddha di tanah air.










