top of page

Search Results

Search this site

23 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Rilis Data Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Tahun 2026 Triwulan II

    Rilis Data Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Tahun 2026 Triwulan II disusun sebagai wujud komitmen Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha dalam menyediakan data statistik yang akurat, mutakhir, relevan, dan transparan. Data yang disajikan menjadi sumber informasi statistik sektoral yang mendukung perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi kebijakan, serta memberikan gambaran mengenai perkembangan program, layanan publik, pendidikan keagamaan, dan kehidupan keagamaan Buddha di Indonesia. Berdasarkan data yang dihimpun hingga Triwulan II Tahun 2026, jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) Pusat tercatat sebanyak 120 orang, terdiri atas 83 Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 37 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Sementara itu, SDM Daerah (nonpenyuluh) berjumlah 309 orang, terdiri atas 125 PNS, 171 PPPK, 11 PPPK Paruh Waktu, dan 2 Non ASN. Berdasarkan komposisi jabatan, pelaksana merupakan kelompok terbesar dengan jumlah 165 orang. Pada aspek pengelolaan keuangan, realisasi anggaran hingga Triwulan II Tahun 2026 mencapai 44,60 persen, meningkat dibandingkan Triwulan I yang sebesar 6,19 persen. Peningkatan tersebut mencerminkan percepatan pelaksanaan program dan kegiatan pada Tahun Anggaran 2026. Jumlah Rohaniwan Buddha tercatat sebanyak 5.418 orang, terdiri atas 587 Bhikkhu/Bhikkhuni, 12 Lhama/Rinpoche, 4.522 Pandita, dan 297 Rohaniwan Asing. Jumlah tersebut tidak mengalami perubahan dibandingkan Triwulan I karena selama Triwulan II belum terdapat layanan penerbitan Kartu Rohaniwan sehubungan dengan proses migrasi aplikasi. Pada sektor Penyuluh Agama Buddha, jumlah penyuluh tetap sebanyak 206 orang. Namun demikian, terdapat perubahan komposisi status kepegawaian. Pada Triwulan II, penyuluh terdiri atas 84 PNS dan 122 PPPK, sedangkan pada Triwulan I terdiri atas 55 PNS, 29 CPNS, dan 122 PPPK. Perubahan tersebut merupakan dampak penyesuaian data kepegawaian dan proses pengangkatan CPNS menjadi PNS. Berdasarkan kualifikasi pendidikan, sebanyak 190 penyuluh berpendidikan S1 dan 16 penyuluh berpendidikan S2. Berdasarkan jenis kelamin, penyuluh terdiri atas 114 laki-laki dan 92 perempuan. Pada sektor rumah ibadah, jumlah Rumah Ibadah Agama Buddha (RIAB) yang terdaftar dalam Sistem Informasi Organisasi dan Rumah Ibadah (SIORI) meningkat dari 3.399 RIAB pada Triwulan I menjadi 3.452 RIAB pada Triwulan II atau bertambah sebanyak 53 RIAB. Sementara itu, jumlah rumah ibadah yang belum terdaftar menurun dari 2.471 RIAB menjadi 2.288 RIAB. Perubahan tersebut menunjukkan peningkatan cakupan pendataan dan registrasi rumah ibadah Buddha. Jumlah candi dan situs Buddha meningkat dari 95 lokasi pada Triwulan I menjadi 103 lokasi pada Triwulan II. Peningkatan tersebut merupakan hasil pemutakhiran dan verifikasi data candi serta situs Buddha di berbagai wilayah. Pada sektor Organisasi Keagamaan Buddha (OKB), jumlah yayasan keagamaan Buddha meningkat dari 1.332 menjadi 1.360 yayasan. Jumlah majelis atau perkumpulan keagamaan Buddha juga meningkat dari 515 menjadi 523 organisasi. Kondisi tersebut menunjukkan perkembangan dalam pendataan dan penguatan kelembagaan keagamaan Buddha. Pada bidang kebudayaan dan ekonomi kreatif, jumlah Kelompok Ekonomi Kreatif Umat Buddha tetap sebanyak 86 kelompok. Sementara itu, jumlah Pegiat Budaya Buddha tercatat sebanyak 50 orang, menurun satu orang dibandingkan Triwulan I yang berjumlah 51 orang. Jumlah Guru Pendidikan Agama Buddha pada Triwulan II Tahun 2026 tercatat sebanyak 1.786 orang, terdiri atas 909 Non ASN, 613 PNS, 255 PPPK, dan 9 PPPK Paruh Waktu. Dibandingkan Triwulan I yang berjumlah 1.815 orang, terdapat penyesuaian data sebanyak 29 guru. Dari aspek sertifikasi, jumlah guru yang telah memiliki sertifikat pendidik meningkat dari 1.380 orang menjadi 1.387 orang, sedangkan jumlah guru yang belum memiliki sertifikat pendidik menurun dari 435 orang menjadi 399 orang. Berdasarkan jenis kelamin, guru terdiri atas 818 laki-laki (45,80 persen) dan 968 perempuan (54,20 persen). Pada bidang Pendidikan Keagamaan Buddha, Nava Dhammasekha meningkat dari 50 lembaga dengan 1.153 peserta didik pada Triwulan I menjadi 52 lembaga dengan 1.175 peserta didik pada Triwulan II. Penambahan lembaga berasal dari Provinsi Jambi yang masih berada pada tahap awal penyelenggaraan sehingga belum memiliki peserta didik. Mula Dhammasekha tetap berjumlah 6 lembaga dengan jumlah peserta didik meningkat dari 150 menjadi 151 orang. Uttama Dhammasekha tetap terdiri atas 1 lembaga dengan 36 peserta didik, sedangkan Muda Dhammasekha masih belum tersedia. Pada penyelenggaraan Sekolah Minggu Buddha (SMB), jumlah lembaga meningkat dari 1.243 menjadi 1.283 lembaga. Di sisi lain, jumlah guru dan tenaga kependidikan mengalami penyesuaian dari 3.782 menjadi 3.649 orang, sedangkan jumlah peserta didik menurun tipis dari 31.883 menjadi 31.818 orang. Perubahan tersebut merupakan hasil pemutakhiran dan validasi data pada Triwulan II. Pada program Sikkhapana, jumlah lembaga yang telah masuk dalam kategori Daftar Baru dan Hasil Migrasi meningkat dari 7 lembaga pada Triwulan I menjadi 23 lembaga pada Triwulan II. Sementara itu, masih terdapat 76 lembaga yang belum bermigrasi ke sistem Sikkhapana, terdiri atas 33 lembaga Dhammasekha Nonformal dan 43 Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat). Selain itu, pada Triwulan II Tahun 2026 tercatat 1 lembaga Pasastrian dengan 48 siswa yang telah terdata dalam sistem. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses migrasi dan pengembangan pendataan pendidikan keagamaan Buddha masih terus berlangsung menuju sistem Sikkhapana yang lebih terintegrasi. Jumlah Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB) tetap sebanyak 12 institusi. Pada Triwulan II, jumlah dosen PTKB tercatat sebanyak 250 orang, menurun tiga orang dibandingkan Triwulan I yang berjumlah 253 orang. Berdasarkan status kepegawaian, komposisi dosen terdiri atas 64 persen Non ASN, 32 persen PNS, dan 4 persen PPPK. Berdasarkan kualifikasi pendidikan, sebanyak 175 dosen berpendidikan S2 dan 75 dosen berpendidikan S3. Jumlah mahasiswa dalam negeri meningkat menjadi 3.064 orang, terdiri atas 2.750 mahasiswa program sarjana dan 314 mahasiswa program magister, dibandingkan Triwulan I yang berjumlah 3.061 orang. Jumlah mahasiswa asing tetap sebanyak 4 orang dan jumlah lulusan tetap sebanyak 1.118 orang. Mobilitas mahasiswa menunjukkan adanya 2 mahasiswa inbound dan 26 mahasiswa outbound, meningkat dibandingkan Triwulan I yang belum mencatat mahasiswa inbound dan memiliki 18 mahasiswa outbound. Pada sektor Tenaga Kependidikan (Tendik) PTKB, jumlah tenaga kependidikan tercatat sebanyak 192 orang, terdiri atas 98 Non ASN, 43 PNS, 47 PPPK, dan 4 PPPK Paruh Waktu. Berdasarkan kualifikasi pendidikan, tenaga kependidikan didominasi lulusan S1 sebanyak 116 orang, diikuti lulusan S2 sebanyak 36 orang. Kontribusi akademik PTKB didukung oleh 39 jurnal terindeks dan 544 kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri. Selain itu, terdapat 14 dosen asing yang berasal dari berbagai negara, dengan jumlah terbanyak berasal dari Sri Lanka sebanyak 5 orang, diikuti Thailand sebanyak 3 orang dan Amerika Serikat sebanyak 2 orang. Secara umum, data Triwulan II Tahun 2026 menunjukkan perkembangan positif pada sejumlah indikator, antara lain peningkatan jumlah RIAB yang terdaftar dalam SIORI, bertambahnya jumlah candi dan situs Buddha, meningkatnya jumlah lembaga Nava Dhammasekha, bertambahnya lembaga Sekolah Minggu Buddha, meningkatnya mobilitas mahasiswa, serta peningkatan realisasi anggaran. Di sisi lain, beberapa indikator mengalami penyesuaian data, antara lain jumlah Guru Pendidikan Agama Buddha dan jumlah dosen PTKB. Data statistik yang disajikan dalam rilis ini diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan berbasis data, penguatan layanan keagamaan dan pendidikan Buddha, serta pengembangan sumber daya manusia dan kelembagaan Buddha secara berkelanjutan.

  • Laporan Kinerja Tahunan Ditjen Bimas Buddha Tahun 2025

    Laporan ini disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan kinerja Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha selama Tahun 2025. Laporan memuat informasi mengenai capaian kinerja, pelaksanaan program dan kegiatan, realisasi indikator kinerja, serta berbagai tantangan dan upaya yang dilakukan dalam mendukung pencapaian sasaran strategis organisasi sepanjang tahun pelaporan.

  • Laporan Kinerja Ditjen Bimas Buddha Tahun 2025 Triwulan 4

    Laporan ini disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan kinerja Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha pada Triwulan 4 Tahun 2025. Laporan memuat informasi mengenai capaian kinerja, pelaksanaan program dan kegiatan, realisasi indikator kinerja, serta berbagai tantangan dan upaya yang dilakukan dalam mendukung pencapaian target kinerja organisasi selama periode pelaporan.

  • Laporan Kinerja Ditjen Bimas Buddha Tahun 2025 Triwulan 3

    Laporan ini disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan kinerja Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha pada Triwulan 3 Tahun 2025. Laporan memuat informasi mengenai capaian kinerja, pelaksanaan program dan kegiatan, realisasi indikator kinerja, serta berbagai tantangan dan upaya yang dilakukan dalam mendukung pencapaian target kinerja organisasi selama periode pelaporan.

  • Laporan Kinerja Ditjen Bimas Buddha Tahun 2025 Triwulan 2

    Laporan ini disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan kinerja Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha pada Triwulan 2 Tahun 2025. Laporan memuat informasi mengenai capaian kinerja, pelaksanaan program dan kegiatan, realisasi indikator kinerja, serta berbagai tantangan dan upaya yang dilakukan dalam mendukung pencapaian target kinerja organisasi selama periode pelaporan.

  • Laporan Kinerja Ditjen Bimas Buddha Tahun 2025 Triwulan 1

    Laporan ini disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan kinerja Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha pada Triwulan I Tahun 2025. Laporan memuat informasi mengenai capaian kinerja, pelaksanaan program dan kegiatan, realisasi indikator kinerja, serta berbagai tantangan dan upaya yang dilakukan dalam mendukung pencapaian target kinerja organisasi selama periode pelaporan.

  • Peta Persebaran Guru, Tenaga Kependidikan, dan Siswa Nava Dhammasekha, Mula Dhammasekha, serta Uttama Dhammasekha Tahun 2024 Triwulan IV di Indonesia

    Visualisasi ini menggambarkan persebaran guru, tenaga kependidikan, dan siswa pada satuan pendidikan keagamaan Buddha yang meliputi Nava Dhammasekha, Mula Dhammasekha, dan Uttama Dhammasekha di Indonesia berdasarkan data Triwulan IV Tahun 2024. Hingga periode tersebut, Nava Dhammasekha telah hadir di 18 provinsi, dengan konsentrasi lembaga terbanyak berada di Jawa Tengah (8 lembaga), diikuti Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Riau yang masing-masing memiliki 4 lembaga. Sementara itu, Mula Dhammasekha telah hadir di 4 provinsi, yaitu Banten, Kepulauan Riau, Lampung, dan Sumatera Utara, masing-masing dengan 1 lembaga, sedangkan Uttama Dhammasekha telah hadir di Jawa Timur dengan 1 lembaga. Berdasarkan data yang terhimpun, Nava Dhammasekha memiliki 226 guru dan tenaga kependidikan dengan 1.482 siswa. Sebaran peserta didik terbesar berada di Jawa Tengah (180 siswa), diikuti Banten (135 siswa), Papua Barat (133 siswa), Jawa Timur (124 siswa), dan Jawa Barat (121 siswa). Provinsi Jambi merupakan provinsi yang baru memiliki lembaga Nava Dhammasekha pada Triwulan IV Tahun 2024, sehingga pada periode pelaporan ini belum terdapat siswa yang terdaftar. Kondisi ini merupakan hal yang wajar mengingat lembaga tersebut masih berada pada tahap awal penyelenggaraan dan diharapkan mulai menerima peserta didik pada periode berikutnya. Pada jenjang lanjutan, Mula Dhammasekha memiliki 38 guru dan tenaga kependidikan dengan 75 siswa, sedangkan Uttama Dhammasekha memiliki 19 guru dan tenaga kependidikan dengan 32 siswa. Secara keseluruhan, jenjang Mula dan Uttama Dhammasekha didukung oleh 57 guru dan tenaga kependidikan yang melayani 107 siswa. Kehadiran kedua jenjang ini menjadi bagian dari kesinambungan layanan pendidikan keagamaan Buddha setelah jenjang Nava Dhammasekha. Pendataan Nava Dhammasekha, Mula Dhammasekha, dan Uttama Dhammasekha merupakan hasil kompilasi data yang telah teregistrasi melalui aplikasi Education Management Information System (EMIS), yang menjadi sumber utama publikasi pada Portal Data Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha. Melalui sistem ini, proses pendataan dilakukan secara terintegrasi guna memastikan validitas, akurasi, dan keterkinian data satuan pendidikan keagamaan Buddha sebagai dasar dalam perencanaan program, evaluasi, dan penyusunan kebijakan. Meskipun demikian, penyebaran satuan pendidikan keagamaan Buddha di Indonesia masih belum merata. Nava Dhammasekha baru terdapat di 18 provinsi, sementara Mula Dhammasekha baru hadir di 4 provinsi dan Uttama Dhammasekha di 1 provinsi. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemerataan akses pendidikan keagamaan Buddha pada seluruh jenjang masih menjadi tantangan yang perlu terus diupayakan melalui pembentukan dan pengembangan lembaga di berbagai wilayah Indonesia, sehingga semakin banyak masyarakat yang memperoleh layanan pendidikan agama Buddha secara berkesinambungan. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha berkomitmen untuk terus menyajikan data yang valid, akurat, dan mutakhir sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan layanan pendidikan keagamaan Buddha di Indonesia. Kami mengundang masyarakat, satuan kerja, dan para pemangku kepentingan untuk memberikan masukan maupun koreksi terhadap data yang disajikan sebagai bagian dari upaya bersama dalam meningkatkan kualitas data pendidikan keagamaan Buddha dan data umat Buddha di Indonesia.

  • Rilis Data Ditjen Bimas Buddha Tahun 2026 Triwulan I

    Rilis Data Ditjen Bimas Buddha Triwulan I Tahun 2026 hadir sebagai wujud komitmen dalam menyediakan data yang akurat, relevan, dan transparan. Data ini tidak sekadar kumpulan angka, tetapi juga mencerminkan kinerja, capaian, serta kualitas layanan kepada masyarakat. Data Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha menunjukkan bahwa jumlah umat Buddha di Indonesia per 31 Desember 2025 mencapai 1.994.756 jiwa, terdiri dari 994.068 laki-laki dan 1.000.688 perempuan. Dalam aspek sumber daya keagamaan, tercatat terdapat 5.418 Rohaniwan, yang meliputi 587 Bhikkhu/Bhikkhuni, 12 Lhama/Rinpoche, 4.522 Pandita, serta 297 Rohaniwan Asing. Pada sektor penyuluh agama, jumlah total mencapai 206 orang, terdiri dari 55 PNS, 29 CPNS, dan 122 PPPK. Mayoritas penyuluh memiliki kualifikasi pendidikan S1 (93,2%), sementara S2 sebesar 6,8%. Terdapat penyesuaian data pada tahun 2026 akibat perubahan nomenklatur yang menghapus kategori non-ASN, sehingga jumlahnya menurun dibandingkan tahun 2025. Untuk sarana ibadah, jumlah rumah ibadah agama Buddha terus meningkat. Tercatat 3.399 rumah ibadah telah terdaftar dalam SIORI, naik dari 3.333 pada tahun 2025, sementara 2.471 rumah ibadah belum terdaftar. Berdasarkan jenisnya, rumah ibadah meliputi cetiya, vihara, serta TITD/kelenteng/bio dengan proporsi yang bervariasi antara yang sudah dan belum terdaftar. Selain itu, terdapat 95 candi atau situs Buddha yang tersebar di Indonesia, dengan jumlah terbanyak berada di provinsi seperti Jambi, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dalam bidang organisasi keagamaan, jumlah organisasi Buddha didominasi oleh yayasan keagamaan Buddha sebanyak 1.332, diikuti oleh majelis/perkumpulan sebanyak 515, serta berbagai organisasi lainnya seperti organisasi keagamaan, wanita, kepemudaan, profesi, hingga sanggar seni. Lima provinsi dengan jumlah organisasi terbanyak adalah Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten. Di bidang kebudayaan, terdapat 51 pegiat budaya Buddha, dengan konsentrasi terbesar di beberapa provinsi seperti Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Jawa Tengah. Sementara itu, pada sektor ekonomi kreatif, kelompok ekonomi kreatif Buddha tersebar di berbagai daerah, dengan jumlah tertinggi berada di provinsi seperti Bali, Lampung, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah. Pada Triwulan I Tahun 2026, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha mencatat berbagai capaian di bidang pendidikan dan tenaga keagamaan Buddha di Indonesia. Jumlah Guru Pendidikan Agama Buddha tercatat sebanyak 1.815 guru, yang terdiri dari 921 Non-ASN, 629 PNS, 256 PPPK, dan 9 PPPK paruh waktu. Jumlah guru laki-laki sebanyak 836 orang, sedangkan guru perempuan sebanyak 979 orang. Berdasarkan sertifikasi, sebanyak 1.380 guru sudah tersertifikasi, sementara 435 guru belum tersertifikasi.. Dari segi penempatan, sebagian besar guru bertugas di jenjang SD, diikuti oleh SMA/SMK, SMP, dan TK. Pada bidang Pendidikan Keagamaan Buddha, terdapat lembaga dengan jumlah siswa yang beragam, yaitu: Nava Dhammasekha: 50 lembaga dengan 1.153 siswa Mula Dhammasekha: 6 lembaga dengan 150 siswa Muda Dhammasekha: belum tersedia Uttama Dhammasekha: 1 lembaga dengan 36 siswa Untuk Sekolah Minggu Buddha, tercatat: 1.243 lembaga 3.782 guru dan tenaga kependidikan 31.883 siswa Selain itu, terdapat lembaga pendidikan nonformal seperti Dhammasekha nonformal (34 lembaga), Pusdiklat (49 lembaga), dan Sikkhapana (7 lembaga). Pada jenjang Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB), terdapat 12 institusi yang tersebar di berbagai provinsi, dengan dominasi perguruan tinggi swasta. Jumlah dosen PTKB mencapai 253 orang, didominasi oleh Non ASN (64,3%), diikuti PNS (28,5%), PPPK (4%), dan CPNS (3,2%). Dari sisi kualifikasi pendidikan, sebagian besar dosen bergelar S2 (73%) dan S3 (27%). Data mahasiswa menunjukkan: Mahasiswa dalam negeri: 3.061 orang (S1: 2.747, S2: 314) Mahasiswa asing: 4 orangTotal mahasiswa mencapai lebih dari 3.000 orang, dengan 1.118 lulusan dan 123 mahasiswa putus kuliah. Terdapat pula mobilitas mahasiswa, dengan 18 mahasiswa outbound dan belum ada inbound. Di sisi tenaga kependidikan (tendik) PTKB, jumlah terbesar berasal dari CPNS dan Non ASN, dengan distribusi kualifikasi pendidikan yang didominasi lulusan S1. Untuk kontribusi akademik, tercatat 39 jurnal terindeks yang mendukung pengembangan keilmuan Buddha. Terakhir, terdapat dosen asing yang berasal dari berbagai negara, dengan jumlah terbanyak dari Sri Lanka, diikuti oleh Thailand, Amerika Serikat, dan negara lainnya. Dosen asing dilibatkan sebagai pengajar dalam bentuk kuliah umum atau kegiatan akademik lainnya. Kehadiran mereka sebagai dosen tamu yang mengajar dalam jangka waktu tertentu sesuai kebutuhan kampus. Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa ekosistem pendidikan Buddha di Indonesia terus berkembang, baik dari sisi jumlah tenaga pendidik, peserta didik, maupun lembaga pendidikan, dengan tantangan pada peningkatan sertifikasi guru dan pemerataan kualitas pendidikan.

  • Potret Umat, Kelembagaan, Pendidikan Agama dan Keagamaan Buddha di Indonesia Triwulan IV Tahun 2025

    Infografis ini menyajikan potret menyeluruh kondisi umat Buddha, rumah ibadah serta perkembangan pendidikan agama dan keagamaan Buddha di Indonesia berdasarkan data Pada Portal Data Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Triwulan IV Tahun 2025 . Jumlah umat Buddha tercatat sebanyak 2.002.402 jiwa , dengan komposisi 998.170 laki-laki dan 1.004.232 perempuan , menunjukkan proporsi gender yang relatif seimbang. Secara historis, jumlah umat Buddha mengalami tren penurunan bertahap dalam periode 2019–2025 , dari 2.062.150 umat pada tahun 2019  menjadi 2.002.402 umat pada tahun 2025 . Penurunan ini cenderung melambat sejak tahun 2023, yang mengindikasikan fase stabilisasi jumlah umat dalam dua tahun terakhir. Dari sisi sumber daya manusia keagamaan, tercatat 836 penyuluh agama Buddha , yang terdiri atas 60 PNS , 24 CPNS , 127 PPPK , 2 PPPK paruh waktu , dan 623 non-ASN . Komposisi ini menunjukkan bahwa peran penyuluh agama masih didominasi oleh non-ASN, sehingga diperlukan penguatan tata kelola dan keberlanjutan pembinaan penyuluh ke depan. Jumlah rohaniwan Buddha menunjukkan tren peningkatan. Pada tahun 2022 tercatat sebanyak 4.344 rohaniwan  yang terdiri atas 4.112 WNI  dan 232 WNA , meningkat menjadi 5.177 rohaniwan  pada tahun 2025 yang terdiri atas 4.881 WNI dan 296 WNA . Kenaikan ini mencerminkan penguatan kapasitas pembinaan umat, termasuk kontribusi rohaniwan warga negara asing dalam pelayanan keagamaan. Adapun rohaniwan warga negara asing memiliki izin pelayanan dengan masa berlaku satu tahun dan wajib melakukan perpanjangan izin untuk dapat melanjutkan kegiatan pelayanan keagamaan di Indonesia. Dari aspek sarana peribadatan, terdapat 5.915 rumah ibadah Buddha pada tahun 2025 , meningkat dari 5.147 pada tahun 2022 . Namun demikian, masih terdapat kesenjangan antara rumah ibadah yang sudah terdaftar sebanyak 3.333  dan yang belum terdaftar sebanyak 2.582 , sehingga diperlukan percepatan proses pendataan dan legalisasi rumah ibadah. Pada sisi Organisasi Keagamaan Buddha, tercatat 1.332 yayasan keagamaan Buddha  sebagai entitas terbanyak, diikuti oleh 515 majelis/perkumpulan , 144 organisasi keagamaan , dan 100 organisasi wanita Buddhis . Hal ini menunjukkan tingginya peran yayasan sebagai basis organisasi keagamaan umat Buddha di Indonesia. Infografis ini juga mencatat keberadaan  56 Candi/Situs Buddha yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia, dengan jumlah terbanyak berada di Provinsi Jambi sebanyak 17 Candi/Situs . Selain itu, terdapat 84 kelompok ekonomi kreatif Umat Buddha dengan jumlah anggota mencapai 1.139 umat , serta 46 pegiat budaya Buddhis  yang melibatkan 2.535 umat . Data ini menunjukkan peran aktif umat Buddha tidak hanya dalam kehidupan keagamaan, tetapi juga dalam penguatan budaya serta pengembangan ekonomi berbasis komunitas di berbagai daerah.Secara keseluruhan, data ini menggambarkan bahwa meskipun jumlah umat Buddha cenderung menurun secara kuantitatif, penguatan kualitas kelembagaan, sumber daya manusia keagamaan, serta partisipasi umat dalam bidang budaya dan ekonomi menunjukkan tren yang positif dan berkelanjutan. Jumlah Guru Pendidikan Agama Buddha tercatat sebanyak 1.727 orang , yang terdiri atas 50% Non-ASN , 36% PNS , 13% PPPK , dan 0,05% PPPK Paruh Waktu . Komposisi ini menunjukkan dominasi guru Non-ASN yang masih cukup tinggi, sehingga penguatan status dan kesejahteraan guru menjadi isu strategis ke depan. Dari sisi gender, terdapat 802 guru laki-laki (46,4%) dan 925 guru perempuan (53,6%) , menunjukkan partisipasi perempuan yang lebih besar dalam pendidikan keagamaan Buddha. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha telah melakukan akselerasi percepatan pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru (PPG)  Dalam Jabatan Pendidikan Agama Buddha. Hingga saat ini, sebanyak 1.474 guru  telah mengikuti PPG Dalam Jabatan. Sementara itu, masih terdapat 310 guru yang belum tersertifikasi , sehingga terus dilakukan percepatan untuk pemenuhan hak profesional guru. Sejumlah guru yang telah melaksanakan PPG dan menerima Tunjangan Profesi Guru (TPG) telah mencapai 784 guru atau 45,4% , sedangkan 943 guru  lainnya belum menerima TPG. Perkembangan lembaga Nava Dhammasekha menunjukkan tren peningkatan dari  37 lembaga pada tahun 2022 menjadi 49 lembaga  pada tahun 2025. Sementara itu, lembaga Mula Dhammasekha masih terbatas, meningkat dari 2 lembaga (2022–2023) menjadi 5 lembaga  pada tahun 2025. Jumlah peserta didik Nava Dhammasekha meningkat signifikan  dari 536 siswa (2022 ) menjadi 1.110 siswa (2025) . Pada Mula Dhammasekha, jumlah peserta didik meningkat dari 8 siswa (2022)  menjadi 150 siswa (2025) . Hingga saat ini, lembaga Muda Dhammasekha belum terbentuk. Selain itu, lembaga Uttama Dhammasekha yang ada baru tercatat sebanyak 1 lembaga yang berdiri pada tahun 2023 hingga tahun 2025 masih tercatat sebanyak 1 lembaga.. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan keagamaan Buddha pada jenjang lanjutan masih memerlukan penguatan kebijakan, dukungan kelembagaan, serta perluasan jangkauan layanan pendidikan. Pada jenjang Sekolah Minggu Buddha , tercatat: 1.278 lembaga , 3.682 guru dan tenaga kependidikan , serta 31.968 siswa . Data ini menegaskan peran strategis Sekolah Minggu Buddha sebagai fondasi pembinaan keagamaan umat Buddha sejak usia dini. Pada pendidikan nonformal, tercatat 35 lembaga Dhammasekha , 52 lembaga Pusdiklat  dan 3 Lembaga Sikkhapana . Pada tahun 2025 , dilakukan proses migrasi kelembagaan , di mana lembaga Pusdiklat dan Dhammasekha nonformal dialihkan menjadi Sikkhapana , sebagai bagian dari penataan dan standardisasi pendidikan keagamaan Buddha. Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB) memiliki 255 dosen , dengan komposisi 64,3% Non-ASN , 28,6% PNS , 3,9% PPPK , dan 3,1% CPNS . Berdasarkan kualifikasi pendidikan, dosen didominasi oleh S2 (76,4%) , sementara S3 mencapai 23,6% , sehingga peningkatan kualifikasi doktoral masih menjadi kebutuhan strategis. Jumlah penelitian tercatat sebanyak 1.021 kegiatan . Pada aspek publikasi ilmiah, terdapat 65 jurnal PTKB , yang terdiri atas 32 jurnal terindeks nasional , 30 jurnal terindeks nasional dan internasional , serta 3 jurnal belum terindeks , mencerminkan kemajuan kualitas akademik PTKB. Perkembangan jumlah mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB) pada periode 2022–2025 menunjukkan dinamika yang cenderung meningkat meskipun bersifat fluktuatif. Pada tahun 2022  tercatat sebanyak 2.377  mahasiswa, meningkat menjadi 2.440  mahasiswa pada 2023 . Kenaikan paling signifikan terjadi pada tahun 2024  dengan jumlah 3.313  mahasiswa, yang mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap pendidikan tinggi keagamaan Buddha. Pada tahun 2025 , jumlah mahasiswa tercatat 3.132  orang, mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, namun secara umum masih berada pada level yang lebih tinggi dibandingkan periode awal pengamatan. Mobilitas mahasiswa mencatat 1 mahasiswa inbound  dan 12 mahasiswa outbound . Selain itu, kegiatan pengembangan mahasiswa meliputi 431 kegiatan pembinaan moderasi beragama , 1.306 kegiatan pengembangan kompetensi mahasiswa , 402 kegiatan pengabdian kepada masyarakat , 89 kegiatan peningkatan kualifikasi dosen , dan 92 kegiatan pendukung SDGs . Selain itu infografis ini menyajikan gambaran kinerja dan tata kelola Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha berdasarkan data yang telah tersedia hingga tahun 2024, mencakup komposisi sumber daya manusia pusat dan daerah, capaian indikator kinerja utama, serta kualitas layanan publik. Adapun data tahun 2025 masih dalam proses pengolahan dan belum dirilis secara resmi, sehingga belum seluruh indikator ditampilkan. Data menunjukkan penguatan profesionalisme ASN yang tercermin dari peningkatan Indeks Profesional ASN dan Nilai SAKIP pada periode 2020–2024, serta tingkat kepuasan masyarakat yang tinggi dan relatif stabil. Di sisi lain, nilai PMPRB dan persentase tindak lanjut hasil pemeriksaan (TLHP) mencerminkan komitmen berkelanjutan dalam pelaksanaan Reformasi Birokrasi dan penguatan akuntabilitas kinerja. Secara keseluruhan, capaian ini menunjukkan upaya konsisten Ditjen Bimas Buddha dalam mewujudkan tata kelola organisasi yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan publik. Infografis ini diharapkan menjadi sarana informasi yang mudah dipahami serta mendukung perencanaan, evaluasi kebijakan, dan pengambilan keputusan berbasis data di lingkungan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha. Secara keseluruhan, pendidikan keagamaan Buddha di Indonesia menunjukkan arah perkembangan yang semakin positif, tercermin dari pertumbuhan jumlah lembaga, peningkatan partisipasi peserta didik, serta keberlangsungan aktivitas akademik. Kondisi ini menjadi fondasi kuat dalam membangun ekosistem pendidikan keagamaan Buddha yang berkelanjutan. Ke depan, penguatan kelembagaan serta peningkatan kapasitas dan profesionalisme tenaga pendidik melalui sertifikasi, TPG, dan peningkatan kualifikasi dosen menjadi peluang strategis untuk meningkatkan mutu layanan dan kualitas pendidikan keagamaan Buddha di Indonesia.

  • Peta Sebaran PTKB: Mahasiswa dan Dosen di Seluruh Indonesia Tahun 2025 Triwulan III

    Visualisasi ini menampilkan sebaran Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB) di Indonesia berdasarkan data Triwulan III Tahun 2025. Saat ini terdapat 12 PTKB yang terdiri dari 2 perguruan tinggi negeri, yaitu Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Sriwijaya dan STABN Raden Wijaya, serta sisanya berstatus swasta, termasuk 1 institut, yaitu Institut Nalanda. Keberadaan PTKB ini menjadi wadah penting bagi pengembangan pendidikan tinggi agama Buddha, sekaligus sebagai pusat pembinaan generasi muda Buddhis di Indonesia. Dengan sebaran tersebut, PTKB berperan dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berlandaskan nilai-nilai ajaran Buddha. Selain itu, Visualisasi ini juga menggambarkan jumlah mahasiswa dan dosen di PTKB. Hingga Triwulan III Tahun 2025, tercatat ada 3.583 mahasiswa yang tersebar di 12 perguruan tinggi tersebut, dengan dukungan 258 dosen. Jumlah mahasiswa ini meningkat sebesar 11,47% dari 3.214 mahasiswa pada Triwulan II Tahun 2025. Peningkatan ini mencerminkan minat yang terus tumbuh terhadap pendidikan tinggi agama Buddha, sekaligus menunjukkan komitmen PTKB dalam memperluas akses pendidikan Buddhis di Indonesia. Dari total dosen yang ada, sebanyak 198 orang telah menempuh pendidikan S2 dan 59 orang bergelar S3, dengan komposisi status kepegawaian terdiri atas 74 PNS, 10 PPPK, 166 Non-ASN, dan 8 CPNS. Saat ini, terdapat 1 orang dosen dengan jabatan fungsional Profesor/Guru Besar, yaitu di STABN Raden Wijaya. Data ini menunjukkan bahwa kualitas akademik dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB) tergolong memadai, dengan mayoritas telah berpendidikan pascasarjana. Ke depan, peningkatan kualifikasi dosen diharapkan dapat terus ditingkatkan agar mutu PTKB semakin berkembang dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. Ditjen Bimbingan Masyarakat Buddha berkomitmen untuk terus menyajikan data yang valid, akurat, dan relevan sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan layanan keagamaan dan pelestarian nilai-nilai Buddhis di Indonesia. Kami mengundang pembaca untuk memberikan masukan atau koreksi melalui kolom komentar sebagai bentuk partisipasi aktif dalam peningkatan kualitas data umat Buddha di Indonesia. Catatan: Data yang disajikan dalam publikasi ini belum melalui tahapan survei akurasi data.

bottom of page