
Search Results
24 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
Posts (16)
- Rilis Data Ditjen Bimas Buddha Tahun 2026 Triwulan I
Rilis Data Ditjen Bimas Buddha Triwulan I Tahun 2026 hadir sebagai wujud komitmen dalam menyediakan data yang akurat, relevan, dan transparan. Data ini tidak sekadar kumpulan angka, tetapi juga mencerminkan kinerja, capaian, serta kualitas layanan kepada masyarakat. Data Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha menunjukkan bahwa jumlah umat Buddha di Indonesia per 31 Desember 2025 mencapai 1.994.756 jiwa, terdiri dari 994.068 laki-laki dan 1.000.688 perempuan. Dalam aspek sumber daya keagamaan, tercatat terdapat 5.418 Rohaniwan, yang meliputi 587 Bhikkhu/Bhikkhuni, 12 Lhama/Rinpoche, 4.522 Pandita, serta 297 Rohaniwan Asing. Pada sektor penyuluh agama, jumlah total mencapai 206 orang, terdiri dari 55 PNS, 29 CPNS, dan 122 PPPK. Mayoritas penyuluh memiliki kualifikasi pendidikan S1 (93,2%), sementara S2 sebesar 6,8%. Terdapat penyesuaian data pada tahun 2026 akibat perubahan nomenklatur yang menghapus kategori non-ASN, sehingga jumlahnya menurun dibandingkan tahun 2025. Untuk sarana ibadah, jumlah rumah ibadah agama Buddha terus meningkat. Tercatat 3.399 rumah ibadah telah terdaftar dalam SIORI, naik dari 3.333 pada tahun 2025, sementara 2.471 rumah ibadah belum terdaftar. Berdasarkan jenisnya, rumah ibadah meliputi cetiya, vihara, serta TITD/kelenteng/bio dengan proporsi yang bervariasi antara yang sudah dan belum terdaftar. Selain itu, terdapat 95 candi atau situs Buddha yang tersebar di Indonesia, dengan jumlah terbanyak berada di provinsi seperti Jambi, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dalam bidang organisasi keagamaan, jumlah organisasi Buddha didominasi oleh yayasan keagamaan Buddha sebanyak 1.332, diikuti oleh majelis/perkumpulan sebanyak 515, serta berbagai organisasi lainnya seperti organisasi keagamaan, wanita, kepemudaan, profesi, hingga sanggar seni. Lima provinsi dengan jumlah organisasi terbanyak adalah Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten. Di bidang kebudayaan, terdapat 51 pegiat budaya Buddha, dengan konsentrasi terbesar di beberapa provinsi seperti Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Jawa Tengah. Sementara itu, pada sektor ekonomi kreatif, kelompok ekonomi kreatif Buddha tersebar di berbagai daerah, dengan jumlah tertinggi berada di provinsi seperti Bali, Lampung, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah. Pada Triwulan I Tahun 2026, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha mencatat berbagai capaian di bidang pendidikan dan tenaga keagamaan Buddha di Indonesia. Jumlah Guru Pendidikan Agama Buddha tercatat sebanyak 1.815 guru, yang terdiri dari 921 Non-ASN, 629 PNS, 256 PPPK, dan 9 PPPK paruh waktu. Jumlah guru laki-laki sebanyak 836 orang, sedangkan guru perempuan sebanyak 979 orang. Berdasarkan sertifikasi, sebanyak 1.380 guru sudah tersertifikasi, sementara 435 guru belum tersertifikasi.. Dari segi penempatan, sebagian besar guru bertugas di jenjang SD, diikuti oleh SMA/SMK, SMP, dan TK. Pada bidang Pendidikan Keagamaan Buddha, terdapat lembaga dengan jumlah siswa yang beragam, yaitu: Nava Dhammasekha: 50 lembaga dengan 1.153 siswa Mula Dhammasekha: 6 lembaga dengan 150 siswa Muda Dhammasekha: belum tersedia Uttama Dhammasekha: 1 lembaga dengan 36 siswa Untuk Sekolah Minggu Buddha, tercatat: 1.243 lembaga 3.782 guru dan tenaga kependidikan 31.883 siswa Selain itu, terdapat lembaga pendidikan nonformal seperti Dhammasekha nonformal (34 lembaga), Pusdiklat (49 lembaga), dan Sikkhapana (7 lembaga). Pada jenjang Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB), terdapat 12 institusi yang tersebar di berbagai provinsi, dengan dominasi perguruan tinggi swasta. Jumlah dosen PTKB mencapai 253 orang, didominasi oleh Non ASN (64,3%), diikuti PNS (28,5%), PPPK (4%), dan CPNS (3,2%). Dari sisi kualifikasi pendidikan, sebagian besar dosen bergelar S2 (73%) dan S3 (27%). Data mahasiswa menunjukkan: Mahasiswa dalam negeri: 3.061 orang (S1: 2.747, S2: 314) Mahasiswa asing: 4 orangTotal mahasiswa mencapai lebih dari 3.000 orang, dengan 1.118 lulusan dan 123 mahasiswa putus kuliah. Terdapat pula mobilitas mahasiswa, dengan 18 mahasiswa outbound dan belum ada inbound. Di sisi tenaga kependidikan (tendik) PTKB, jumlah terbesar berasal dari CPNS dan Non ASN, dengan distribusi kualifikasi pendidikan yang didominasi lulusan S1. Untuk kontribusi akademik, tercatat 39 jurnal terindeks yang mendukung pengembangan keilmuan Buddha. Terakhir, terdapat dosen asing yang berasal dari berbagai negara, dengan jumlah terbanyak dari Sri Lanka, diikuti oleh Thailand, Amerika Serikat, dan negara lainnya. Dosen asing dilibatkan sebagai pengajar dalam bentuk kuliah umum atau kegiatan akademik lainnya. Kehadiran mereka sebagai dosen tamu yang mengajar dalam jangka waktu tertentu sesuai kebutuhan kampus. Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa ekosistem pendidikan Buddha di Indonesia terus berkembang, baik dari sisi jumlah tenaga pendidik, peserta didik, maupun lembaga pendidikan, dengan tantangan pada peningkatan sertifikasi guru dan pemerataan kualitas pendidikan.
- Potret Umat, Kelembagaan, Pendidikan Agama dan Keagamaan Buddha di Indonesia Triwulan IV Tahun 2025
Infografis ini menyajikan potret menyeluruh kondisi umat Buddha, rumah ibadah serta perkembangan pendidikan agama dan keagamaan Buddha di Indonesia berdasarkan data Pada Portal Data Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Triwulan IV Tahun 2025 . Jumlah umat Buddha tercatat sebanyak 2.002.402 jiwa , dengan komposisi 998.170 laki-laki dan 1.004.232 perempuan , menunjukkan proporsi gender yang relatif seimbang. Secara historis, jumlah umat Buddha mengalami tren penurunan bertahap dalam periode 2019–2025 , dari 2.062.150 umat pada tahun 2019 menjadi 2.002.402 umat pada tahun 2025 . Penurunan ini cenderung melambat sejak tahun 2023, yang mengindikasikan fase stabilisasi jumlah umat dalam dua tahun terakhir. Dari sisi sumber daya manusia keagamaan, tercatat 836 penyuluh agama Buddha , yang terdiri atas 60 PNS , 24 CPNS , 127 PPPK , 2 PPPK paruh waktu , dan 623 non-ASN . Komposisi ini menunjukkan bahwa peran penyuluh agama masih didominasi oleh non-ASN, sehingga diperlukan penguatan tata kelola dan keberlanjutan pembinaan penyuluh ke depan. Jumlah rohaniwan Buddha menunjukkan tren peningkatan. Pada tahun 2022 tercatat sebanyak 4.344 rohaniwan yang terdiri atas 4.112 WNI dan 232 WNA , meningkat menjadi 5.177 rohaniwan pada tahun 2025 yang terdiri atas 4.881 WNI dan 296 WNA . Kenaikan ini mencerminkan penguatan kapasitas pembinaan umat, termasuk kontribusi rohaniwan warga negara asing dalam pelayanan keagamaan. Adapun rohaniwan warga negara asing memiliki izin pelayanan dengan masa berlaku satu tahun dan wajib melakukan perpanjangan izin untuk dapat melanjutkan kegiatan pelayanan keagamaan di Indonesia. Dari aspek sarana peribadatan, terdapat 5.915 rumah ibadah Buddha pada tahun 2025 , meningkat dari 5.147 pada tahun 2022 . Namun demikian, masih terdapat kesenjangan antara rumah ibadah yang sudah terdaftar sebanyak 3.333 dan yang belum terdaftar sebanyak 2.582 , sehingga diperlukan percepatan proses pendataan dan legalisasi rumah ibadah. Pada sisi Organisasi Keagamaan Buddha, tercatat 1.332 yayasan keagamaan Buddha sebagai entitas terbanyak, diikuti oleh 515 majelis/perkumpulan , 144 organisasi keagamaan , dan 100 organisasi wanita Buddhis . Hal ini menunjukkan tingginya peran yayasan sebagai basis organisasi keagamaan umat Buddha di Indonesia. Infografis ini juga mencatat keberadaan 56 Candi/Situs Buddha yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia, dengan jumlah terbanyak berada di Provinsi Jambi sebanyak 17 Candi/Situs . Selain itu, terdapat 84 kelompok ekonomi kreatif Umat Buddha dengan jumlah anggota mencapai 1.139 umat , serta 46 pegiat budaya Buddhis yang melibatkan 2.535 umat . Data ini menunjukkan peran aktif umat Buddha tidak hanya dalam kehidupan keagamaan, tetapi juga dalam penguatan budaya serta pengembangan ekonomi berbasis komunitas di berbagai daerah.Secara keseluruhan, data ini menggambarkan bahwa meskipun jumlah umat Buddha cenderung menurun secara kuantitatif, penguatan kualitas kelembagaan, sumber daya manusia keagamaan, serta partisipasi umat dalam bidang budaya dan ekonomi menunjukkan tren yang positif dan berkelanjutan. Jumlah Guru Pendidikan Agama Buddha tercatat sebanyak 1.727 orang , yang terdiri atas 50% Non-ASN , 36% PNS , 13% PPPK , dan 0,05% PPPK Paruh Waktu . Komposisi ini menunjukkan dominasi guru Non-ASN yang masih cukup tinggi, sehingga penguatan status dan kesejahteraan guru menjadi isu strategis ke depan. Dari sisi gender, terdapat 802 guru laki-laki (46,4%) dan 925 guru perempuan (53,6%) , menunjukkan partisipasi perempuan yang lebih besar dalam pendidikan keagamaan Buddha. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha telah melakukan akselerasi percepatan pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan Pendidikan Agama Buddha. Hingga saat ini, sebanyak 1.474 guru telah mengikuti PPG Dalam Jabatan. Sementara itu, masih terdapat 310 guru yang belum tersertifikasi , sehingga terus dilakukan percepatan untuk pemenuhan hak profesional guru. Sejumlah guru yang telah melaksanakan PPG dan menerima Tunjangan Profesi Guru (TPG) telah mencapai 784 guru atau 45,4% , sedangkan 943 guru lainnya belum menerima TPG. Perkembangan lembaga Nava Dhammasekha menunjukkan tren peningkatan dari 37 lembaga pada tahun 2022 menjadi 49 lembaga pada tahun 2025. Sementara itu, lembaga Mula Dhammasekha masih terbatas, meningkat dari 2 lembaga (2022–2023) menjadi 5 lembaga pada tahun 2025. Jumlah peserta didik Nava Dhammasekha meningkat signifikan dari 536 siswa (2022 ) menjadi 1.110 siswa (2025) . Pada Mula Dhammasekha, jumlah peserta didik meningkat dari 8 siswa (2022) menjadi 150 siswa (2025) . Hingga saat ini, lembaga Muda Dhammasekha belum terbentuk. Selain itu, lembaga Uttama Dhammasekha yang ada baru tercatat sebanyak 1 lembaga yang berdiri pada tahun 2023 hingga tahun 2025 masih tercatat sebanyak 1 lembaga.. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan keagamaan Buddha pada jenjang lanjutan masih memerlukan penguatan kebijakan, dukungan kelembagaan, serta perluasan jangkauan layanan pendidikan. Pada jenjang Sekolah Minggu Buddha , tercatat: 1.278 lembaga , 3.682 guru dan tenaga kependidikan , serta 31.968 siswa . Data ini menegaskan peran strategis Sekolah Minggu Buddha sebagai fondasi pembinaan keagamaan umat Buddha sejak usia dini. Pada pendidikan nonformal, tercatat 35 lembaga Dhammasekha , 52 lembaga Pusdiklat dan 3 Lembaga Sikkhapana . Pada tahun 2025 , dilakukan proses migrasi kelembagaan , di mana lembaga Pusdiklat dan Dhammasekha nonformal dialihkan menjadi Sikkhapana , sebagai bagian dari penataan dan standardisasi pendidikan keagamaan Buddha. Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB) memiliki 255 dosen , dengan komposisi 64,3% Non-ASN , 28,6% PNS , 3,9% PPPK , dan 3,1% CPNS . Berdasarkan kualifikasi pendidikan, dosen didominasi oleh S2 (76,4%) , sementara S3 mencapai 23,6% , sehingga peningkatan kualifikasi doktoral masih menjadi kebutuhan strategis. Jumlah penelitian tercatat sebanyak 1.021 kegiatan . Pada aspek publikasi ilmiah, terdapat 65 jurnal PTKB , yang terdiri atas 32 jurnal terindeks nasional , 30 jurnal terindeks nasional dan internasional , serta 3 jurnal belum terindeks , mencerminkan kemajuan kualitas akademik PTKB. Perkembangan jumlah mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB) pada periode 2022–2025 menunjukkan dinamika yang cenderung meningkat meskipun bersifat fluktuatif. Pada tahun 2022 tercatat sebanyak 2.377 mahasiswa, meningkat menjadi 2.440 mahasiswa pada 2023 . Kenaikan paling signifikan terjadi pada tahun 2024 dengan jumlah 3.313 mahasiswa, yang mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap pendidikan tinggi keagamaan Buddha. Pada tahun 2025 , jumlah mahasiswa tercatat 3.132 orang, mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, namun secara umum masih berada pada level yang lebih tinggi dibandingkan periode awal pengamatan. Mobilitas mahasiswa mencatat 1 mahasiswa inbound dan 12 mahasiswa outbound . Selain itu, kegiatan pengembangan mahasiswa meliputi 431 kegiatan pembinaan moderasi beragama , 1.306 kegiatan pengembangan kompetensi mahasiswa , 402 kegiatan pengabdian kepada masyarakat , 89 kegiatan peningkatan kualifikasi dosen , dan 92 kegiatan pendukung SDGs . Selain itu infografis ini menyajikan gambaran kinerja dan tata kelola Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha berdasarkan data yang telah tersedia hingga tahun 2024, mencakup komposisi sumber daya manusia pusat dan daerah, capaian indikator kinerja utama, serta kualitas layanan publik. Adapun data tahun 2025 masih dalam proses pengolahan dan belum dirilis secara resmi, sehingga belum seluruh indikator ditampilkan. Data menunjukkan penguatan profesionalisme ASN yang tercermin dari peningkatan Indeks Profesional ASN dan Nilai SAKIP pada periode 2020–2024, serta tingkat kepuasan masyarakat yang tinggi dan relatif stabil. Di sisi lain, nilai PMPRB dan persentase tindak lanjut hasil pemeriksaan (TLHP) mencerminkan komitmen berkelanjutan dalam pelaksanaan Reformasi Birokrasi dan penguatan akuntabilitas kinerja. Secara keseluruhan, capaian ini menunjukkan upaya konsisten Ditjen Bimas Buddha dalam mewujudkan tata kelola organisasi yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan publik. Infografis ini diharapkan menjadi sarana informasi yang mudah dipahami serta mendukung perencanaan, evaluasi kebijakan, dan pengambilan keputusan berbasis data di lingkungan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha. Secara keseluruhan, pendidikan keagamaan Buddha di Indonesia menunjukkan arah perkembangan yang semakin positif, tercermin dari pertumbuhan jumlah lembaga, peningkatan partisipasi peserta didik, serta keberlangsungan aktivitas akademik. Kondisi ini menjadi fondasi kuat dalam membangun ekosistem pendidikan keagamaan Buddha yang berkelanjutan. Ke depan, penguatan kelembagaan serta peningkatan kapasitas dan profesionalisme tenaga pendidik melalui sertifikasi, TPG, dan peningkatan kualifikasi dosen menjadi peluang strategis untuk meningkatkan mutu layanan dan kualitas pendidikan keagamaan Buddha di Indonesia.
- Peta Sebaran PTKB: Mahasiswa dan Dosen di Seluruh Indonesia Tahun 2025 Triwulan III
Visualisasi ini menampilkan sebaran Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB) di Indonesia berdasarkan data Triwulan III Tahun 2025. Saat ini terdapat 12 PTKB yang terdiri dari 2 perguruan tinggi negeri, yaitu Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Sriwijaya dan STABN Raden Wijaya, serta sisanya berstatus swasta, termasuk 1 institut, yaitu Institut Nalanda. Keberadaan PTKB ini menjadi wadah penting bagi pengembangan pendidikan tinggi agama Buddha, sekaligus sebagai pusat pembinaan generasi muda Buddhis di Indonesia. Dengan sebaran tersebut, PTKB berperan dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berlandaskan nilai-nilai ajaran Buddha. Selain itu, Visualisasi ini juga menggambarkan jumlah mahasiswa dan dosen di PTKB. Hingga Triwulan III Tahun 2025, tercatat ada 3.583 mahasiswa yang tersebar di 12 perguruan tinggi tersebut, dengan dukungan 258 dosen. Jumlah mahasiswa ini meningkat sebesar 11,47% dari 3.214 mahasiswa pada Triwulan II Tahun 2025. Peningkatan ini mencerminkan minat yang terus tumbuh terhadap pendidikan tinggi agama Buddha, sekaligus menunjukkan komitmen PTKB dalam memperluas akses pendidikan Buddhis di Indonesia. Dari total dosen yang ada, sebanyak 198 orang telah menempuh pendidikan S2 dan 59 orang bergelar S3 , dengan komposisi status kepegawaian terdiri atas 74 PNS , 10 PPPK , 166 Non-ASN , dan 8 CPNS . Saat ini, terdapat 1 orang dosen dengan jabatan fungsional Profesor/Guru Besar , yaitu di STABN Raden Wijaya. Data ini menunjukkan bahwa kualitas akademik dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB) tergolong memadai , dengan mayoritas telah berpendidikan pascasarjana. Ke depan, peningkatan kualifikasi dosen diharapkan dapat terus ditingkatkan agar mutu PTKB semakin berkembang dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa . Ditjen Bimbingan Masyarakat Buddha berkomitmen untuk terus menyajikan data yang valid, akurat, dan relevan sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan layanan keagamaan dan pelestarian nilai-nilai Buddhis di Indonesia. Kami mengundang pembaca untuk memberikan masukan atau koreksi melalui kolom komentar sebagai bentuk partisipasi aktif dalam peningkatan kualitas data umat Buddha di Indonesia. Catatan: Data yang disajikan dalam publikasi ini belum melalui tahapan survei akurasi data .






