top of page

Potret Umat, Kelembagaan, Pendidikan Agama dan Keagamaan Buddha di Indonesia Triwulan IV Tahun 2025

Diperbarui: 3 Feb

Infografis ini menyajikan potret menyeluruh kondisi umat Buddha, rumah ibadah serta perkembangan pendidikan agama dan keagamaan Buddha di Indonesia berdasarkan data Pada Portal Data Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Triwulan IV Tahun 2025.

Jumlah umat Buddha tercatat sebanyak 2.002.402 jiwa, dengan komposisi 998.170 laki-laki dan 1.004.232 perempuan, menunjukkan proporsi gender yang relatif seimbang. Secara historis, jumlah umat Buddha mengalami tren penurunan bertahap dalam periode 2019–2025, dari 2.062.150 umat pada tahun 2019Ā menjadi 2.002.402 umat pada tahun 2025. Penurunan ini cenderung melambat sejak tahun 2023, yang mengindikasikan fase stabilisasi jumlah umat dalam dua tahun terakhir.

Dari sisi sumber daya manusia keagamaan, tercatat 836 penyuluh agama Buddha, yang terdiri atas 60 PNS, 24 CPNS, 127 PPPK, 2 PPPK paruh waktu, dan 623 non-ASN. Komposisi ini menunjukkan bahwa peran penyuluh agama masih didominasi oleh non-ASN, sehingga diperlukan penguatan tata kelola dan keberlanjutan pembinaan penyuluh ke depan.

Jumlah rohaniwan Buddha menunjukkan tren peningkatan. Pada tahun 2022 tercatat sebanyak 4.344 rohaniwanĀ yang terdiri atas 4.112 WNIĀ dan 232 WNA, meningkat menjadi 5.177 rohaniwanĀ pada tahun 2025 yang terdiri atas 4.881 WNI dan 296 WNA. Kenaikan ini mencerminkan penguatan kapasitas pembinaan umat, termasuk kontribusi rohaniwan warga negara asing dalam pelayanan keagamaan. Adapun rohaniwan warga negara asing memiliki izin pelayanan dengan masa berlaku satu tahunĀ dan wajib melakukan perpanjangan izin untuk dapat melanjutkan kegiatan pelayanan keagamaan di Indonesia.

Dari aspek sarana peribadatan, terdapat 5.915 rumah ibadah Buddha pada tahun 2025, meningkat dari 5.147 pada tahun 2022. Namun demikian, masih terdapat kesenjangan antara rumah ibadah yang sudah terdaftar sebanyak 3.333Ā dan yang belum terdaftar sebanyak 2.582, sehingga diperlukan percepatan proses pendataan dan legalisasi rumah ibadah.

Pada sisi Organisasi Keagamaan Buddha, tercatat 1.332 yayasan keagamaan BuddhaĀ sebagai entitas terbanyak, diikuti oleh 515 majelis/perkumpulan, 144 organisasi keagamaan, dan 100 organisasi wanita Buddhis. Hal ini menunjukkan tingginya peran yayasan sebagai basis organisasi keagamaan umat Buddha di Indonesia.

Infografis ini juga mencatat keberadaanĀ 56 Candi/Situs Buddha yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia, dengan jumlah terbanyak berada di Provinsi Jambi sebanyak 17 Candi/Situs. Selain itu, terdapat 84 kelompok ekonomi kreatif Umat Buddha dengan jumlah anggota mencapai 1.139 umat, serta 46 pegiat budaya BuddhisĀ yang melibatkan 2.535 umat. Data ini menunjukkan peran aktif umat Buddha tidak hanya dalam kehidupan keagamaan, tetapi juga dalam penguatan budaya serta pengembangan ekonomi berbasis komunitas di berbagai daerah.Secara keseluruhan, data ini menggambarkan bahwa meskipun jumlah umat Buddha cenderung menurun secara kuantitatif, penguatan kualitas kelembagaan, sumber daya manusia keagamaan, serta partisipasi umat dalam bidang budaya dan ekonomi menunjukkan tren yang positif dan berkelanjutan.

Jumlah Guru Pendidikan Agama Buddha tercatat sebanyak 1.727 orang, yang terdiri atas 50% Non-ASN, 36% PNS, 13% PPPK, dan 0,05% PPPK Paruh Waktu. Komposisi ini menunjukkan dominasi guru Non-ASN yang masih cukup tinggi, sehingga penguatan status dan kesejahteraan guru menjadi isu strategis ke depan. Dari sisi gender, terdapat 802 guru laki-laki (46,4%) dan 925 guru perempuan (53,6%), menunjukkan partisipasi perempuan yang lebih besar dalam pendidikan keagamaan Buddha. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha telah melakukan akselerasi percepatan pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru (PPG)Ā Dalam Jabatan Pendidikan Agama Buddha. Hingga saat ini, sebanyak 1.474 guruĀ telah mengikuti PPG Dalam Jabatan. Sementara itu, masih terdapat 310 guru yang belum tersertifikasi, sehingga terus dilakukan percepatan untuk pemenuhan hak profesional guru. Sejumlah guru yang telah melaksanakan PPG dan menerima Tunjangan Profesi Guru (TPG) telah mencapai 784 guru atau 45,4%, sedangkan 943 guruĀ lainnya belum menerima TPG.

Perkembangan lembaga Nava Dhammasekha menunjukkan tren peningkatan dariĀ 37 lembaga pada tahun 2022 menjadi 49 lembagaĀ pada tahun 2025. Sementara itu, lembaga Mula Dhammasekha masih terbatas, meningkat dari 2 lembaga (2022–2023) menjadi 5 lembagaĀ pada tahun 2025. Jumlah peserta didik Nava Dhammasekha meningkat signifikanĀ dari 536 siswa (2022) menjadi 1.110 siswa (2025). Pada Mula Dhammasekha, jumlah peserta didik meningkat dari 8 siswa (2022)Ā menjadi 150 siswa (2025). Hingga saat ini, lembaga Muda Dhammasekha belum terbentuk. Selain itu, lembaga Uttama Dhammasekha yang ada baru tercatat sebanyak 1 lembaga yang berdiri pada tahun 2023 hingga tahun 2025 masih tercatat sebanyak 1 lembaga.. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan keagamaan Buddha pada jenjang lanjutan masih memerlukan penguatan kebijakan, dukungan kelembagaan, serta perluasan jangkauan layanan pendidikan.

Pada jenjang Sekolah Minggu Buddha, tercatat:

  • 1.278 lembaga,

  • 3.682 guru dan tenaga kependidikan, serta

  • 31.968 siswa.

Data ini menegaskan peran strategis Sekolah Minggu Buddha sebagai fondasi pembinaan keagamaan umat Buddha sejak usia dini.

Pada pendidikan nonformal, tercatat 35 lembaga Dhammasekha, 52 lembaga PusdiklatĀ dan 3 Lembaga Sikkhapana. Pada tahun 2025, dilakukan proses migrasi kelembagaan, di mana lembaga Pusdiklat dan Dhammasekha nonformal dialihkan menjadi Sikkhapana, sebagai bagian dari penataan dan standardisasi pendidikan keagamaan Buddha.

Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB) memiliki 255 dosen, dengan komposisi 64,3% Non-ASN, 28,6% PNS, 3,9% PPPK, dan 3,1% CPNS. Berdasarkan kualifikasi pendidikan, dosen didominasi oleh S2 (76,4%), sementara S3 mencapai 23,6%, sehingga peningkatan kualifikasi doktoral masih menjadi kebutuhan strategis.

Jumlah penelitian tercatat sebanyak 1.021 kegiatan. Pada aspek publikasi ilmiah, terdapat 65 jurnal PTKB, yang terdiri atas 32 jurnal terindeks nasional, 30 jurnal terindeks nasional dan internasional, serta 3 jurnal belum terindeks, mencerminkan kemajuan kualitas akademik PTKB.

Perkembangan jumlah mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB) pada periode 2022–2025 menunjukkan dinamika yang cenderung meningkat meskipun bersifat fluktuatif. Pada tahun 2022Ā tercatat sebanyak 2.377Ā mahasiswa, meningkat menjadi 2.440Ā mahasiswa pada 2023. Kenaikan paling signifikan terjadi pada tahun 2024Ā dengan jumlah 3.313Ā mahasiswa, yang mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap pendidikan tinggi keagamaan Buddha. Pada tahun 2025, jumlah mahasiswa tercatat 3.132Ā orang, mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, namun secara umum masih berada pada level yang lebih tinggi dibandingkan periode awal pengamatan.

Mobilitas mahasiswa mencatat 1 mahasiswa inboundĀ dan 12 mahasiswa outbound. Selain itu, kegiatan pengembangan mahasiswa meliputi 431 kegiatan pembinaan moderasi beragama, 1.306 kegiatan pengembangan kompetensi mahasiswa, 402 kegiatan pengabdian kepada masyarakat, 89 kegiatan peningkatan kualifikasi dosen, dan 92 kegiatan pendukung SDGs.

Selain itu infografis ini menyajikan gambaran kinerja dan tata kelola Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha berdasarkan data yang telah tersedia hingga tahun 2024, mencakup komposisi sumber daya manusia pusat dan daerah, capaian indikator kinerja utama, serta kualitas layanan publik. Adapun data tahun 2025 masih dalam proses pengolahan dan belum dirilis secara resmi, sehingga belum seluruh indikator ditampilkan. Data menunjukkan penguatan profesionalisme ASN yang tercermin dari peningkatan Indeks Profesional ASN dan Nilai SAKIP pada periode 2020–2024, serta tingkat kepuasan masyarakat yang tinggi dan relatif stabil. Di sisi lain, nilai PMPRB dan persentase tindak lanjut hasil pemeriksaan (TLHP) mencerminkan komitmen berkelanjutan dalam pelaksanaan Reformasi Birokrasi dan penguatan akuntabilitas kinerja. Secara keseluruhan, capaian ini menunjukkan upaya konsisten Ditjen Bimas Buddha dalam mewujudkan tata kelola organisasi yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan publik.

Infografis ini diharapkan menjadi sarana informasi yang mudah dipahami serta mendukung perencanaan, evaluasi kebijakan, dan pengambilan keputusan berbasis data di lingkungan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha. Secara keseluruhan, pendidikan keagamaan Buddha di Indonesia menunjukkan arah perkembangan yang semakin positif, tercermin dari pertumbuhan jumlah lembaga, peningkatan partisipasi peserta didik, serta keberlangsungan aktivitas akademik. Kondisi ini menjadi fondasi kuat dalam membangun ekosistem pendidikan keagamaan Buddha yang berkelanjutan. Ke depan, penguatan kelembagaan serta peningkatan kapasitas dan profesionalisme tenaga pendidik melalui sertifikasi, TPG, dan peningkatan kualifikasi dosen menjadi peluang strategis untuk meningkatkan mutu layanan dan kualitas pendidikan keagamaan Buddha di Indonesia.

Ā 

2 Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian*
it dycom
it dycom
02 Feb
•
Dinilai 5 dari 5 bintang.

Datanya jelas dan tervisualisasi dengan baik

Suka

Septianto
Septianto
02 Feb
•
Dinilai 5 dari 5 bintang.

Mantab

Suka
bottom of page